Al-Husen bin Ali – Syahid Karbala dan Tragedi Kezaliman Umat Sendiri
"Setiap zaman punya Karbala-nya, dan setiap umat punya Husen-nya."
Husen bin Ali bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah cucu kesayangan Nabi Muhammad ﷺ. Dari garis nasabnya mengalir darah kenabian, dari lisannya mengalir kebenaran, dan dari jiwanya memancar keberanian.
Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali, umat Islam memasuki masa krisis moral kepemimpinan. Yazid bin Muawiyah naik tahta sebagai pemimpin kaum Muslimin, namun dengan cara dan gaya hidup yang jauh dari nilai Islam.
Husen tidak tinggal diam. Ia menolak membai'at Yazid. Bukan karena ambisi kekuasaan, tapi karena tidak ingin kebenaran Islam dikompromikan oleh pemimpin yang zalim.
Ia berangkat ke Kufah, mengikuti seruan rakyat yang ingin menjadikannya pemimpin. Tapi setibanya di padang Karbala, janji itu berubah menjadi jebakan.
Ia dikepung, diputus air, dikejar dengan ancaman.
Tanggal 10 Muharram 61 Hijriyah, satu demi satu keluarganya gugur. Dan akhirnya, kepala Husen pun dipenggal, dibawa ke hadapan Yazid.
---
Karbala Bukan Sekadar Tragedi
Karbala bukan sekadar kisah duka. Ini adalah peringatan keras bagi umat Islam:
Bahwa pengkhianatan, cinta dunia, dan diam terhadap kezaliman bisa membunuh siapa saja—bahkan cucu Nabi.
“Husen berdiri karena kebenaran, dan mati karena umat yang lemah.”
Kita hari ini mungkin tidak berperang di padang Karbala, tapi bisa saja menjadi seperti mereka yang diam saat kebenaran diinjak-injak.
---
Al-Husen mengajarkan kita bahwa kebenaran harus diperjuangkan, meski tak ada jaminan menang di dunia.
Dan bahwa musuh Islam tak selalu datang dari luar—tapi seringkali dari dalam, dari umat itu sendiri yang lebih mencintai dunia daripada kebenaran.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar
Posting Komentar